Monday, October 7, 2013

Analisis Jurnal Observasi

  
    4.      HUBUNGAN SEKSUAL LANSIA PRIA YANG TELAH KEHILANGAN PASANGANNYA
Penelitian ini berasal dari Jepang dimana memiliki budaya dan  latar belakang sosial kehidupan seksual lansia dianggap negatif dan tidak dihormati (Backer, 1984; Yoshizawa, 1986). Selain itu lansia ditempatkan pada tingkat yg rendah dalam tangga sosial dan dianggap tidak kompeten. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencermati perilaku seksual laki-laki lansia dan pandangan mereka tentang perilaku seksual tersebut.
Subjek penelitiannya adalah 3 orang duda berusia diatas 60 tahun dengan karakteristik tetap menduda tetapi memiliki hubungan seksual saat ini dan subjek tinggal dipinggir kota Tokyo dan kota besar di Osaka. Penelitian lain menyebutkan bahwa kesehatan seksual merupakan komponen penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan itu terkait dengan fungsi dan hasrat (Montreal Deklarasi, 2005).
Fungsi sexual yg disadari dg baik membawa kepuasan secara fisik dan keberadaan pendamping wanita dapat meningkatkan self-esteem pria. Hasil menunjukkan bahwa memiliki pasangan seksual wanita membawa semangat tinggi yang dapat membuat perasaan bahagia kepada lansia.

    5.      Memperkecil Frekuensi Membolos melalui Konseling Pribadi Diri
Tujuan penelitian adalah ingin mengatahui efektifitas konseling pribadi dapat memperkecil frekuensi membolos konseli pada semester ganjil tahun 2009/2010 di SMA Islam Lumajang. Sampel sebanyak 5 orang masing-masing konseli memiliki frekuensi membolos sebanyak 14,14,15,10 dan 18 kali.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, dan wawancara. Konseling pribadi dapat memperkecil frekuensi membolos pada semester 1 tahun pelajaran 2009 / 2010 di SMA Islam Lumajang. Faktor penyebab konseli sering membolos yaitu ada kesamaan kesenangan dengan konseli yang sering membolos, faktor keluarga, akibat pergaulan (ikut-ikutan), belum ada stabilitas tangung jawab terhadap peran diri sebagai pelajar, kurang mendapatkan perhatian guru saat kegiatan pembelajaran, kurang mendapatkan perhatian dari keluarga.

      6.      Pelatihan Regulasi Emosi untuk MenurunkanPerilaku Agresif pada Anak
Maraknya perilaku agresif pada anak saat ini banyak terjadi di Indonesia. Anak-anak tidak mengenal arti agresif, akan tetapi mereka sering melakukannya. Bentuk-bentuk agresif yang ditampilkan antara lain: menghina, menolak melakukan tugas, melempar barang, mencubit, menendang, mendorong untuk mendapatkan keinginan, mengganggu teman, memukul, mudah marah dan berkelahi serta usil (Elisabeth, 2007).
Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu Apakah pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada anak masa sekolah kelas V SD yang berusia 10 tahun?. Subjek penelitian berjumlah dua orang siswa  laki-laki sekolah dasar berusia 10 tahun yang berperilaku agresif.
Penelitian ini menggunakan perilaku agresif anak sekolah sebagai objeknya, maka peneliti melakukan observasi dengan mengamati dan mengukur perilaku agresif anak kelas V SD yang berusia 10 tahun. Perilaku yang akan diamati adalah perilaku agresif fisik dan verbal yang bersifat terbuka atau tampak. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada subjek penelitian ini, yaitu anak kelas V SD, berusia 10 tahun dan melakukan perilaku agresif fisik serta agresif verbal.

Psikodiagnostik II: Observasi


    1.   Efektivitas Metode Bermain Peran (Role Play) Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Pada Anak
Dalam penelitian kali ini peneliti melihat bahwa banyak anak yang belum mampu melakukan kemampuan berkomunikasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui cara komunikasi pada anak. Peneliti memakai metode bermain peran sebagai intervensinya yang kemudian akan dilihat apakah terdapat perbedaan perbedaan keterampilan komunikasi pada anak yang diberikan perlakuan metode bermain peran (role play) dengan anak yang tidak diberikan perlakuan metode bermain peran.
Keterampilan komunikasi yang dinilai ada tiga menurut Santrock (2007), yaitu keterampilan berbicara, keterampilan mendengar, keterampilan berkomunikasi secara non verbal. Observasi awal dilakukan untuk melihat anak yang memiliki komunikasi dibawah rata-rata. Subjek penelitiannya adalah siswa-siswi kelas B PAUD IT Durratul Islam Ngablak Magelang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dengan metode Child Behaviour Checklist (CBCL).
Hasil menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan pada keterampilan komunikasi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada saat setelah diberi perlakuan. Jadi, metode “Bermain Peran (Role Play)” efektif untuk meningkatkan keterampilan komunikasi pada anak.

   2. Mengurangi Kecemasan Konseli Mengikuti Ujian Nasional Melalui Konseling Kelompok Dengan Strategi Relaksasi

Menghadapi ujian nasional, banyak permasalahan yang akan dihadapi oleh konseli untuk itu penelitian ini bertujuan membantu konseli mengatasi masalah kecemasan menghadapi ujian, juga untuk meningkatkan aktivitas konseli dalam layanan konseling kelompok.
Relaksasi adalah salah satu tehnik dalam terapi perilaku. Menurut pandangan ilmiah, relaksasi merupakan perpanjangan serabut otot skeletal, sedangkan ketegangan merupakan kontraksi terhadap perpindahan serabut otot (Beech, 1982). Manfaat relaksasi sangat banyak diantaranya relaksasi akan membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena stres, masalah-masalah yang berhubungan dengan stres seperti hipertensi, sakit kepala, insomnia, dapat dikurangi atau diobati dengan relaksasi serta dapat mengurangi tingkat kecemasan.
Penelitian ini dilakukan pada konseli kelas IXA SMP Negeri 1 Jatiroto yang mengalami kecemasan sejumlah 12 orang terdiri 4 orang konseli laki-laki dan 8 orang konseli perempuan. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa konseling kelompok dengan strategi relaksasi dapat membantu konseli mengatasi masalah kecemasan juga dapat meningkatkan aktivitas dalam layanan konseling kelompok.

  3.PENGARUH PROGRAM “EMPATI PLUS” TERHADAP KEPERCAYAAN INTERPERSONAL PECANDU NARKOBA
Pengguna narkoba di indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Dalam penelitian kualitatif didapatkan bahwa perasaan tidak diperhatikan dan kehilangan kasih sayang merupakan suatu penghambat dalam proses penyembuhan mereka. Salah satu pendekatan psikologis yang biasanya diaplikasikan adalah konseling. Konselor merupakan faktor penting dalam kegiatan konseling. Hubungan yang baik antara konselor dan klien sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan konseling, salah satu indikatornya adalah kepercayaan klien kepada konselor, dalam hal ini kepercayaan interpersonal.
Sebelum melakukan konseling, para konselor diberi pelatihan atau semacam workshop selama satu hari mengenai empati plus yang dalamnya mencakup empati, mendengarkan aktif, relaksasi, dan deteksi emosi kepada para konselor rehabilitasi narkoba., lalu setelah itu para konselor melakukan konseling maka peneliti ingin mengetahui Apakah kepercayaan klien kepada para konselor akan meningkat seiring dengan pelaksanaan program empati plus dalam proses konseling?.
Subjek penelitian Enam orang pekerja sosial yang bertugas sebagai konselor TC dari panti rehabilitasi ketergantungan narkoba dan dua puluh orang klien yang menjadi responden untuk mengetahui kepercayaan interpersonal klien terhadap konselor .

Hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan kepercayaan interpersonal klien terhadap konselor TC setelah dilakukannya intervensi meskipun peningkatan yang terjadi tidak terlalu tinggi.

Sunday, September 22, 2013

     
Lanjutan Review Jurnal...


      1.      Subjective Well-Being Anak Dari Orang Tua Yang Bercerai
·         Masalah penelitian: Bagaimana dinamika psikologis subjective well-being yang terjadi pada anak dari orang tua yang bercerai?
·         Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika psikologis subjective wellbeing anak dari orang tua yang bercerai.
·         Hasil menunjukkan bahwa keadaan subjective well-being subyek sebelum perceraian orang tuanya memiliki tingkat yang cenderung rendah. Setelah perceraian terdapat dua kondisi yaitu, menggambarkan subjective well-being yang masih memiliki kecenderungan rendah dan yang kedua sudah terjadi peningkatan kualitas subjective well-being menjadi lebih baik.
·         Sumber: Jurnal Psikologi Volume 35, No. 2, Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

      2.      Analisis Gender pada Iklan Televisi dengan Metode Semiotika
Masalah penelitian ini adalah Apakah iklan berimplikasi pada pengukuhan kembali nilai gender streotipe bila iklan yang bersangkutan memuat ideologi gender yang seksis?
Dalam penelitian ini iklan yang digunakan ada dua yaitu Iklan Pond’s White Beauty baru dan iklan Rinso. Peneliti melakukan observasi terhadap iklan-iklan yang ditayangkan untuk mendapatkan gambaran tentang iklan-iklan itu sendiri dan juga menggunakan metode semiotika yaitu studi tentang tanda yang berusaha untuk mencari makna ideologis dari suatu teks.
Hasilnya iklan Pond’s White Beauty merepresentasikan ideologi gender yang seksis, dimana perempuan diletakkan pada posisi subordinat yang harus memenuhi keinginan laki-laki agar tubuhnya diinginkan oleh laki-laki. Produsen (pengiklan) sengaja menciptakan citra kecantikan ideal ini agar dipakai oleh calon konsumen sebagai standar kecantikan pribadi calon konsumennya. Sementara iklan Rinso mempresentasikan kebahagiaan yang akan diperoleh oleh pasangan yang mau berbagi tugas rumah tangga diasosiasikan dengan kualitas produk Rinso itu sendiri.

      3.      Studi Kasus: Dampak Psikososial Enuresis Pada Remaja Putri
 Enuresis adalah arti dari mengompol, namun dalam penelitian ini yang mengalami enuresis bukan lah anak balita melainkan anak remaja. Sehingga masalah penelitiannya adalah Bagaimana dampak psikososial enuresis pada remaja putri?
Subjek penelitian ini adalah remaja putrid yang berusia 13 tahun, adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dari dampak psikososial enuresis pada remaja putri, apakah ada faktor yang mempengaruhi dalam keseharian dalam kualitas hubungan subjek dengan orang tua, saudara dan teman sekolah.
Penelitian ini memiliki desain kualitatif, metode pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan terhadap orang tua, saudara, teman, guru kelas dan guru BK. Sedangkan observasi berupa anecdotal record, bertujuan untuk mengetahui aktifitas dan interaksi subjek dengan anggota keluarga dirumah, mengetahui aktivitas dan interaksi subjek dikelas dengan guru dan teman, dan mengetahui perilaku yang berkaitan dengan permasalahan subjek di kelas dan di luar kelas.
Hasil menunjukkan bahwa terdapat dampak psikososial yaituHubungan dg orang tua yg tidak sedekat saudara-saudaranya, mendapat labeling di rumah, ekspresi verbal yg cenderung kasar, orang tua beranggapan subjek semaunya sendiri dan susah diatur, sering mendapat ejekan di sekolah.


Sumber: http://fpsi.unissula.ac.id/images/7setiowati.pdf

Saturday, September 21, 2013

Psikodiagnostik II: Observasi


Review Jurnal-Jurnal

          Well,, berhubung dari semester sebelumnya sudah banyak tugas mengenai pembahasan jurnal dan di semester ini saya akan lebih sering lagi membahas jurnal maka kali ini saya akan me-review nya…. Membahas jurnal sangat banyak manfaatnya, kita menjadi lebih terbuka mengenai pengetahuan baru, bagaimana design diterapkan dalam penelitian dan yang menariknya jurnal adalah ringkasan atau bentuk sederhana dari skripsi. Maka kita dengan membaca ringkasannya diharapkan terlatih kepekaan kita untuk memprediksi bagaimana skripsinya… Menarik kaaan.. makanya harus sering baca jurnal !!..

      1.      Seksualitas Remaja Autis pada Remaja Autis
Berdasarkan DSM IV (2000, h. 75), gangguan autistik didefinisikan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga ciri utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan pada komunikasi, dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi, yang gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia tiga tahun.
Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan seksualitas  remaja autis pada masa puber. Dalam penilitian ini, pemahaman seksualitas yang digunakan peneliti yakni berupa perubahan perilaku yang dipengaruhi oleh kognisi, dan perubahan afeksi atau emosional yang berhubungan dengan dorongan maupun hasrat seksual.
Rumusan Masalah:
a.      Bagaimanakah ekspresi seksual dan perilaku seksual yang ditampakkan oleh remaja autis?
b.      Bagaimana peran orang tua, guru, dan terapis sebagai caregiver terkait dengan datangnya masa puber ?
c.       Bagaimana lingkungan atau masyarakat sekitar merespon perilaku seksual yang ditampakkan remaja autis?
d.      Bagaimana pemberian pendidikan seksualitas remaja autis secara tepat ?
Jawaban dari masalah yang dirumuskan:
a.      Keterbatasan yang dimiliki individu autis menyebabkan remaja autis sulit untuk memahami keinginan seksual dan menunjukkan perilaku yang semakin memburuk seperti destructiveness dan lebih berperilaku agresif.

b.      Guru dan terapis sebagai pengajar dan pendidik di sekolah memiliki peranan membantu orangtua anak autis agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan serta berperilaku secara tepat, namun peran guru dan terapis tersebut kurang dipahami orangtua sehingga kurangnya pemberian pengajaran ulang di rumah tentang pendidikan seksual dan kurang adanya komunikasi tentang seksualitas yang terjalin antara orangtua dan remaja autis.

c.       Keterbatasan yang dimiliki penyandang autis dan kurangnya pemahaman akan seksualitas pribadi yang dimiliki remaja autis direspon oleh lingkungan atau masyarakat bahwa anak autis mengalami penyimpangan perilaku seksual dan tidak memiliki rasa malu karena dianggap tidak sesuai dengan perilaku yang normatif dalam masyarakat.

d.      Perilaku memainkan alat kelamin atau masturbasi yang cenderung dilakukan anak autis pada masa puber terjadi karena kurangnya pemahaman atas impuls yang dirasakan dan cara melakukan kontrol terhadap perilaku yang menyertainya. Rendahnya kemampuan kognitif dan usia mental yang dimiliki anak autis bila dibandingkan dengan anak pada umumnya, juga adanya stigma dalam masyarakat bahwa pembicaraan seksualitas cenderung dianggap hal yang masih tabu karena mengarah ke hubungan seksual, membuat caregiver anak autis cenderung kurang memberikan perhatian dalam pemberian kontrol perilaku terhadap dorongan seksual, tetapi caregiver cenderung lebih mengajarkan perilaku yang normative dalam masyarakat. Padahal pengajaran dan pemberian kontrol perilaku terhadap dorongan seksual merupakan sesuatu yang penting dan patut untuk diperhatikan.
Dalam pembahasan jurnal ini, dosen saya bertanya bagaimana cara observasinya ? dan apakah penelitian ini melanggar kode etik atau tidak ? Untuk itu kita harus tahu dahulu apa saja yang termasuk dalam kode etik meneliti:
1.      Menghindari perasaan menyakiti/tidak nyaman pada subjek secara fisik dan psikologis.
2.      Jika kiranya terdapat hal yang akan mengganggu kenyamanan subjek maka lakukan deBrief kepada subjek, yaitu penjelasan mengenai maksud dan tujuan peneliti.
3.      Menyampaikan izin kepada subjek/orang tua subjek terkait pengambilan gambar dan perekaman suara.
4.      Peneliti tidak diperkenankan mempublikasi identitas subjek, kecuali diperbolehkan oleh subjek itu pun harus menggunakan inisial.

      2.      Presentasi Diri dan Desepsi dalam Komunikasi Media Komputer Pada Pengguna Internet Relay Chat
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang bentuk komunikasi antar pribadi dalam sebuah komunitas jaringan-komputer, yakni ketika lokus interaksi tatap muka digantikan oleh konteks komunikasi berbasis teks. Secara khusus, kajian difokuskan pada deskripsi mengenai bentuk presentasi diri dan desepsi dalam komunikasi chat pada sebuah channel Internet Relay Chat (IRC). Data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan perekaman (logging) percakapan dalam chatroom IRC; observasi partisipan dalam chatroom selama empat minggu; wawancara informal terhadap tujuh orang partisipan chatroom yang berperan sebagai key informan; serta pengumpulan dokumen komunitas, baik dokumen cetak maupun dokumen on-line pada web-site channel. Hasil penelitian menggambarkan bahwa variasi bentuk presentasi diri dan desepsi pada para partisipan chatroom mengikuti variasi model komunikasi media-komputer yang digunakan. Selain itu variasi bentuk presentasi diri dan desepsi juga sangat bergantung kepada konteks kultur komunitas tempat partisipan yang bersangkutan membangun interaksi on-line.
           
      3.      Penerapan Terapi Realitas untuk Membantu Coping-Stress pada Wanita Pekerja Seksual dengan HIV Positif
Masalah penelitian:
a.      Bagaimana efektifitas terapi realitas dalam mengatasi stress pada wanita pekerja seksual yang mengidap HIV positif?
b.      Apa yang menjadi sumber stress pada wanita pekerja seksual yang mengidap HIV positif?
Terapi realitas yang digunakan dalam penelitian tersebut memiliki tujuan agar subjek  dapat menerima keadaannya dan tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri serta dapat beradaptasi dengan kondisi kesehatnnya yang baru.
Terapi realitas yang aktif secara verbal ini, menurut penelitian tersebut membawa hasil positif bagi para subjek. Mereka kini memiliki pemahaman yang benar tentang infeksi HIV yang ada padanya, sehingga kekhawatiran dan ketakutan yang semula dirasakan sangat mengganggu kini menjadi berkurang meskipun belum hilang sama sekali.  Hasil lain yang tampak adalah kemampuan subjek untuk belajar mengambil keputusan berkaitan dengan hubungan interpersonal yang dijalaninya.
Salah satu sumber stress yang dihadapi subjek adalah rencana pernikahan. Berbagai macam bentuk respon timbul saat mereka mengetahui status kesehatannya, seperti depresi, gangguan mood, marah, berpikiran untuk bunuh diri dan lain sebagainya. 


Sumber:
http://eprints.undip.ac.id/10958/1/jurnal.pdf

http://library.gunadarma.ac.id/journal/files/4236/presentasi-diri-dan-desepsi-dalam-komunikasi-media-komputer-pada-pengguna-internet-relay-chat-sebuah-studi-etnografi.pdf

Psikologi dalam Manajemen Sumber Daya Mnusia

Fungsi MSDM dan Perencanaan {HRP(Human Resource Planning)}

MSDM memiliki peran penting dalam melengkapi organisasi untuk memenuhi tantangan sektor yang semakin berkembang dan kompetitif. Peningkatan jumlah staf, kontrak diversivikasi dan perubahan dalam profil demografis memaksa manajer SDM untuk mengkonfigurasi ulang peran dan pentingnya manajemen sumber daya manusia. Fungsi MSDM bersifat membentuk kembali tujuan organisasi, semua fungsi MSDM berkorelasi dengan tujuan inti MSDM.
Setiap bagian dalam organisasi atau perusahaan pasti memiliki fungsinya masing-masing, fungsi itu juga terkait dengan perencanaannya. Nah, kita perlu nih mengetahui apa saja fungsi dan perencanaan dari MSDM. Yuk kita nambah ilmu dengan mengetahui fungsi dan peran MSDM serta kaitannya….

         A.    FUNGSI MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia)
1.      Strategic HR Management: Sebagai bagian dari menjaga daya saing organisasi , berencana untuk efektivitas SDM dapat ditingkatkan melalui penggunaan SDM metrik dan teknologi SDM . Fungsi ini menganalisa dan menentukan Personil kebutuhan dalam rangka menciptakan tim inovasi yang efektif . Strategi HRP dasar adalah staf dan pengembangan karyawan.

2.      Equal Employment Opportunity: Kepatuhan dengan kesempatan kerja yang sama ( EEO) hukum dan peraturan mempengaruhi semua kegiatan HR lainnya.

3.      Staffing: Tujuan dari staf adalah untuk menyediakan pasokan yang cukup dari individu yang  berkualitas untuk mengisi pekerjaan di organisasi. Dalam fungsi seleksi, pelamar yang paling memenuhi syarat yang dipilih berdasarkan kemampuan dan keterampilan mereka sesuai dengan pekerjaan.

4.      Talent Management and Development
Manajemen sumber daya manusia bertanggung jawab untuk membantu para manajer menjadi pelatih dan penasehat yang baik bagi bawahannya, menciptakan program pelatihan dan pengembangan yang efektif baik bagi karyawan baru (orientasi) maupun yang sudah ada (pengembangan keterampilan), terlibat dalam program pelatihan kerja dan pengembangan tersebut, memperkirakan kebutuhan perusahaan akan program pelatihan dan pengembangan, serta mengevaluasi efektifitas progam pelatihan dan pengembangan. Tanggung jawab manajeman sumber daya manusia dalam hal ini juga menyangkut masalah pemutusan hubungan kerja Tanggung jawab ini membantu restrukturisasi perusahaan dan memberikan solusi terhadap konflik yang terjadi dalam perusahaan.

5.      Total Reward /Compensation
Dalam hal kompensasi dibutuhkan suatu koordinasi yang baik antara manajemen sumber daya manusia dengan para manajer. Para manajer bertanggung jawab dalam hal kenaikan gaji, sedangkan manajemen sumber daya manusia bertanggung jawab untuk mengembangkan struktur gaji yang baik. Sistem kompensasi yang memerlukan keseimbangan antara pembayaran dan manfaat yang diberikan kepada tenaga kerja. Pembayaran meliputi gaji, bonus, insentif, dan pembagian keuntungan yang diterima oleh karyawan. Manfaat meliputi asuransi kesehatan, asuransi jiwa, cuti, dan sebagainya. Manajemen sumber daya manusia bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kompensasi yang diberikan bersifat kompetitif diantara perusahaan yang sejenis, adil, sesuai dengan hukum yang berlaku (misalnya:UMR), dan memberikan motivasi.

6.      Risk Management and Worker Protection
Setiap perusahaan wajib untuk memiliki dan melaksanakan program keselamatan untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan dan menciptakan kondisi yang sehat. Tenaga kerja perlu diingatkan secara terus menerus tentang pentingnya keselamatan kerja Suatu program keselamatan kerja yang efektif dapat mengurangi jumlah kecelakaan dan meningkatkan kesehatan tenaga kerja secara umum. Manajemen sumber daya manusia mempunyai tanggung jawab utama untuk mengadakan pelatihan tentang keselamatan kerja, mengidentifikasi dan memperbaiki kondisi yang membahayakan tenaga kerja, dan melaporkan adanya kecelakaan kerja.

7.      Employee and Labour Relations
Dalam perusahaan yang memiliki serikat pekerja, manajemen sumber daya manusia berperan aktif dalam melakukan negosiasi dan mengurus masalah persetujuan dengan pihak serikat pekerja. Membantu perusahaan menghadapi serikat pekerja merupakan tanggung jawab manajemen sumber daya manusia. Setelah persetujuan disepakati, manajemen sumber daya manusia membantu para manajer tentang bagaimana mengurus persetujuan tersebut dan menghindari keluhan yang lebih banyak. Tanggung jawab utama manajemen sumber daya manusia adalah untuk menghindari praktek-praktek yang tidak sehat (misalnya:mogok kerja, demonstrasi). Dalam perusahaan yang tidak memiliki serikat kerja, departemen sumber daya manusia dibutuhkan untuk terlibat dalam hubungan karyawan. Secara umum, para karyawan tidak bergabung dengan serikat kerja jika gaji mereka cukup memadai dan mereka percaya bahwa pihak perusahaan bertanggung jawab terhadap kebutuhan mereka. Manajemen sumber daya manusia dalam hal ini perlu memastikan apakah para karyawan diperlakukan secara baik.

           B.     Perencanaan Sumber Daya Manusia (HRP)
Perencanaan sumber daya manusia sngat penting untuk membantu keduanya yaitu; organisasi dan karyawan untuk mempersiapkan masa depan. Tujuan dasar dari perencanaan sumber daya manusia adalah untuk memprediksi masa depan dan berdasarkan prediksi ini, dpt dilaksanakan program untuk menghindari masalah yang tak terduga. Singkatnya perencanaan sumber daya manusia adalah proses untuk menguji organisasi atau kebutuhan sumber daya manusia pada individu di masa depan. misalnya, apa jenis keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan di masa depan dibandingkan dengan apa kemampuan sumber daya manusia di masa depan kemudian melaksanakan program-program pelatihan untuk menghindari kurangnya keterampilan.
Menurut Beach, perencanaan sumber daya manusia adalah proses penentuan dan dengan asumsi bahwa organisasi akan memiliki jumlah orang-orang berkualitas yang memadai yang tersedia pada waktu yang tepat, melakukan pekerjaan yang memenuhi kebutuhan perusahaan dan yang memberikan kepuasan bagi individu yang terlibat.
Terdapat empat tahap HRP:
    1.  Tahap pertama melibatkan pengumpulan dan analisis data melalui inventarisasi tenaga kerja dan perkiraan,
    2.    Tahap kedua terdiri dari menetapkan tujuan dan kebijakan tenaga kerja dan mendapatkan persetujuan dr atasan mengenai manajemen ini.
    3.  Tahap ketiga melibatkan merancang dan menerapkan rencana dan promosi untuk mengaktifkan organisasi untuk mencapai tujuan tenaga kerjanya.
    4.   Tahap keempat berkaitan dengan pengendalian dan evaluasi tenaga kerja berencana untuk memfasilitasi kemajuan dalam rangka memperoleh manfaat baik bagi organisasi maupun individu. Pandangan jangka panjang berarti bahwa keuntungan mungkin akan dikorbankan dalam jangka pendek untuk alasan masa depan. Proses perencanaan memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi apa yang perlu tenaga kerjanya dan apa yang dibutuhkan masalah ketenagakerjaan potensial saat ini. Hal ini menyebabkan kinerja yang lebih efektif dan efisien.
  
         C.     Tujuan dari Perencanaan Sumber Daya Manusia
1.      Untuk memastikan pemanfaatan optimal sumber daya manusia saat ini tersedia dalam organisasi.

2.      Untuk menilai atau memperkirakan kebutuhan keterampilan organisasi di masa depan.

3.      Untuk memberikan langkah-langkah pengendalian untuk memastikan bahwa sumber daya yang diperlukan tersedia dan ada bila diperlukan.

4.      Serangkaian alasan tertentu yang menekankan pentingnya untuk perencanaan tenaga kerja dan memprediksi pelatihan-pelatihan. Hal ini dapat diuraikan sbb:
o   Untuk menghubungkan perencanaan tenaga kerja dengan perencanaan organisasi.
o   Untuk menentukan tingkat perekrutan.
o   Untuk mengantisipasi redudansi.
o   Untuk menentukan tingkat pelatihan yang optimal.
o   Untuk memberikan dasar untuk program pengembangan manajemen.
o   Untuk biaya tenaga kerja.
o   Untuk membantu perundingan produktivitas.
o   Untuk menilai kebutuhan akomodasi masa depan.
o   Untuk mempelajari biaya overhead dan nilai fungsi layanan.
o   Untuk menentukan apakah kegiatan tertentu perlu disubkontrakkan, dll

HRP ada sebagai bagian dari proses perencanaan bisnis. Ini adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengkoordinasikan persyaratan untuk ketersediaan berbagai jenis pengusaha. Kegiatan utama adalah prediksi (kebutuhan masa depan), inventarisasi (kekuatan yang sekarang), mengantisipasi (perbandingan sekarang dan persyaratan masa depan) dan perencanaan (program yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan).
Perkiraan HR bertanggung jawab untuk memperkirakan jumlah orang dan pekerjaan yang dibutuhkan oleh organisasi untuk mencapai tujuan dan merealisasikan rencananya dengan cara yang paling efisien dan efektif.
Kebutuhan SDM dihitung dengan mengurangkan persediaan HR atau jumlah karyawan yang tersedia dari yang diharapkan tuntutan HR atau jumlah orang yang dibutuhkan untuk menghasilkan tingkat yang diinginkan hasil. Tujuan SDM adalah untuk menyediakan personil yang tepat untuk pekerjaan yang tepat dan pemanfaatan yang optimal dari sumber daya manusia yang ada.

ž                     Tujuan dari perencanaan sumber daya manusia dapat diringkas sebagai berikut:
   1.      Memprediksi Persyaratan Sumber Daya Manusia: HRP sangat penting untuk menentukan kebutuhan masa depan SDM dalam suatu organisasi. Dengan tidak adanya rencana ini sangat sulit untuk memberikan orang yang tepat pada waktu yang tepat.
   2.      Manajemen Perubahan yang efektif: perencanaan yang tepat diperlukan untuk mengatasi perubahan berbagai aspek yang mempengaruhi organisasi. Perubahan ini perlu kelanjutan dari alokasi /realokasi dan efektif pemanfaatan SDM dalam organisasi.
   3.      Menyadari Tujuan Organisasi: Dalam rangka untuk memenuhi perluasan dan organisasi lainnya kegiatan perencanaan SDM organisasi sangat penting.
   4.      Mempromosikan Karyawan: HRP memberikan umpan balik dalam bentuk data karyawan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dalam kesempatan promosi yang akan dibuat untuk organisasi.
   5.      Pemanfaatan Efektif HR:  data base akan memberikan informasi yang berguna dalam mengidentifikasi surplus dan kekurangan sumber daya manusia. Tujuan HRP adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kapasitas organisasi untuk mencapai tujuannya dengan mengembangkan strategi yang tepat yang akan menghasilkankontribusi maksimal dari HR.

       D.    Kaitan antara Fungsi MSDM dengan Perencanaan SDM
Setelah membaca apa-apa saja fungsi MSDM dan perencanaan SDM kita dapat menarik analogi sederhana antara fungsi MSDM, perencanaan SDM, dan tujuan organisasi/perusahaan. Analoginya adalah seperti kita ingin membuat kejutan ulang tahun. Tujuannya adalah membuat kejutan, rencananya ingin membuat kue yang dibuat sendiri nah dalam proses membuat kue fungsi oven, mixer dan alat lainnya harus bekerja dengan baik kalau tidak maka rencana gagal dan tujuan kita tidak sampai. Maka fungsi harus dijankan dengan baik agar rencana bisa berproses dengan baik pula untuk tujuannya.

Sama halnya dengan mekanisme dalam MSDM, fungsi-fungsi tersebut harus berjalan dengan optimal karena fungsi berkorelasi dengan tujuan inti. Untuk sampai pada tujuan inti maka harus ada rencana yang disusun dimana rencana tsb sangat bergantung pada fungsi, berjalan baik atau tidak. Dalam perencanaan SDM juga terdapat tujuan salah satunya untuk menyadari tujuan organisasi…










sumber:
Bahan ajar: Module HRM 08 pdf.
http://staff.uny.ac.id dengan keyword keterkaitan antara fungsi MSDM dengan perencanaan SDM